Jumat, 23 Maret 2012

filsafat etika



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Etika sama dengan moralitas yang artinya adat istiadat atau kebiasaan. Secara harfiah merupakan sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik. Etika merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai dua hal, yaitu 1. nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia 2. masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma yang diterimaDalam bermasyarakat tentunya wajib beretika yang benar agar bisa diterima di masyarakat. Jika seseorang tidak bisa bermasyarakat maka seseorang itu akan masuk suatu lembaga untuk dimasyarakat sebagaimana harusnya.
Pola tingkah laku serta perbuatan baik atau buruk itu adalah masyarakat yang menilai.Keadaan di masyarakat tentunya mempunyai nilai hakikat yang tinggi dari leluhur mereka. Jika keadaan dimana seseorang melanggar ketentuan yang sudah ada dari leluhur itu maka hukumanlah (hukum adat atau hukum perdata) yang pantas didapatkan. Keadaan seperti ini tidak bisa dielakkan karena dimana kita berpijak maka disitulah langit dijunjung.
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada perlu kami kemukakan perumusan masalah, agar permasalahan yang ada lebih jelas dan terarah sebagai berikut :
1)      Apa yang di maksud dengan etika…?
2)      Ada berapa macam etika…?
3)      Bagaimana etika menurut salah satu filsuf…?

  1. Tujuan Penulisan
Tidak lain makalah yang kami susun ini dapat dijadikan sebagai bahan ajaran atau diskusi, untuk mengetahui pengertian dan ruang lingkup etika, dan untuk memenuhi tugas akhir semester.


BAB II
PEMBAHASAN


  1. Pengertian Etika
Kamus besar bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (1988) merumuskan etika dalam tiga arti sebagai berikut:
§  Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
§  Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
§  Nilai mengenai benar salah yang dianut masyarakat.
Dari asal usulnya, etika berasal dari bahasa yunani ”ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Bertolak dari kata tersebut, akhirnya etika berkembang menjadi studi tentang kebiasan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.[1]
Menurut profesor Robert salomon, etika dapat dikelompokkan menjadi dua definisi yaitu:
§  Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termasuk bahwa orang yang beretika adalah orang yang baik.
§  Etika merupakan hukun sosial.etika merupakan hukum yang mengatur, mengendalikan serta membatasi periaku manusia.
Pada perkembangannya, etika telah menjadi sebuah studi. Fagothey (1953) mengatakan bahwa etika adalah studi tentang kehndak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya. Pernyataan tersebut kembali di tegaskan oleh Sumaryono (1995) yang menyatakan bahwa etika merupakan studi tentang kebenaran dan ketidabenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia dalam perbuatannya.
Selain itu etika juga dapat diartikan sebagai  ethos, yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumpt, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan, sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dalam arti terakhir inilah terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Ada juga kata moral dari bahasa Latin yang artinya sama dengan etika.
Secara istilah etika memunyai tiga arti: pertama, nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Arti ini bisa disebut sistem nilai. Misalnya etika Protestan, etika Islam, etika suku Indoan. Kedua, etika berarti kumpulan asas atau nilai moral (kode etik). Misalnya kode etik kedokteran, kode etik peneliti, dan lain-lain. Ketiga, etika berati ilmu tentang yang baik atau buruk.
Etika menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis menjadi bahan refleksi bagi suau penelitian sistematis dan metodis. Di sini sama artinya dengan filsafat moral.
  1. Pembagian Tentang Etika

Etika dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: etika Diskriptif, dan etika Normatif[2]
a.       Etika Diskriptif
Hanya melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan suatu kelompok, tanpa memberikan penilaian. Etika deskriptif memelajari moralitas yang terdapat pada kebudayaan tertentu, dalam periode tertentu. Etika ini dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi, sosiologi, psikologi, dan lain-lain, jadi termasuk ilmu empiris, bukan filsafat.
b.      Etika Normatif
Etika yang tidak hanya melukiskan, melainkan melakukan penilaian (preskriptif: memerintahkan). Untuk itu ia mengadakan argumentasi, alasan-alasan mengapa sesuatu dianggap baik atau buruk. Etika normatif dibagi menjadi dua, etika umum yang memermasalahkan tema-tema umum, dan etika khusus yang menerapkan prinsip-prinsip etis ke dalam wilayah manusia yang khusus, misalnya masalah kedokteran, penelitian. Etika khusus disebut juga etika terapan.
  1. Etika Menurut Salah Satu Filsuf (Plato)

Seperti yang telah di kemukakan di beberapa buku, bahwa apabila kita ingin memahami filsafat Plato maka keseluruhan pembahasan filsafatnya bertalian langsung dengan pondasi filsafatnya tentang teori “Ide”. begitu juga halnya dengan pembahasannya tentang Etika, plato berusaha menerangkan’ bagaimana yang di sebut Etika yang Ideal itu, atau hakikat ide itu yang selayaknya bagaimana..? itulah kira-kira yang ingin diterangkan oleh Plato.
Jadi membahas Etika plato tanpa mengaitkannya dengan teori Ide merupakan teori yang tidak lengkap begitu juga pembahasan filsafat Plato yang lain. Menurut plato, tujuan hidup manusia ialah kehidupan yang senang dan bahagia, dan manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup itu.Barang kali kitapun sepakat dengan pendapat plato tersebut, walaupun kebahagiaan dalam persepsi kita mungkin berbeda-beda. Misalnya ada yang mempersepsikan kebahagiaan itu dengan kebahagiaan memiliki harta, tahta, dan wanita. Atau kebahagiaan berupa kekayaan bathin, keimanan kepadatuhan, atau bahagia bila dapat berbagi dengan sesama, bahagia karena cita-cita terwujud nyata, kebahagiaan memperoleh kemerdekaan bagi bangsa yang terjajah, kebahagiaan berupa pencapayan sukses yang gemilang dan yang lain sebagainya.
Namun adalah pendapat yang keliru bila kebahagiaan dan kesenangan itu menurut Plato di upayakan hanya demi pemuasan nafsu selama hidup di dunia nyata (indawi) tetapi menurut plato kebahagiaan dan kesenangan hidup harus di lihat dalam hubungan kedua dunia. Yaitu di samping kebahagiaan Indrawi yang lebih penting lagi adalah kebahagiaan yang hakiki yang berkaitan erat dengan batin yaitu dunia “Ide”. oleh karena itu untuk memenuhi tuntutan kebahagiaan dalam dunia ide manusia harus senantiasa berbuat hal-hal yang baik, karena dunia yang sebenarnya menurut plato adalah dunia Ide, jadi segala ide tentang kebaikan dan kebajikan adalah sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia Ide.Saat filsafat plato sampai kepada kesimpulan bahwa kebaikan dan kebajikan adalah sebagai ide tertinggi di dunia ide, kita teringat akan tuhan, tuhan adalah puncak dari segala kebaikan dan kebajikan yang selalu menuntun dan menunjukkan jalan yang lurus dan terbaik bagi kita.”Ebit .G Ade pernah mengungkapkan dengan kata-kata yang begitu dalam bila kita renungi kata-katanya:” sedang tuhan diatas sana tak pernah menghukum dengan sinar matanya yang lebih tajam dari mata hari” untayan kata tersebut menyadarkan kita betapa tuhan menyayangi kita, dan sudah selayaknya kita berbuat kebaikan pada seluruh kehidupan agar kebahagiaan yang kita cita-citakan baik secara lahir maupun batin dapat terpenuhi.
Bila di atas telah di tuliskan bahwa dunia yang sebenarnya menurut plato adalah dunia Ide, maka dia melanjutkan bahwa baginya (Plato) dunia realitas (indrawi) hanyalah kenyataan yang ada dalam bayangan atau lebih jelasnya bahwa dunia indrawi ini hanyalah tiruan dari dunia yang menurut plato dunia yang sebenarnya yaitu dunia “Ide”. manusia sebagai makhluk Etikal hanya sementara berada di dunia indrawi, dan selama manusia berada di dunia Indrawi tersebut.[3]
Menurut Plato “manusia selalu rindu untuk naik keatas yaitu dunia Ide”. dia rindu kebaikan tertinggi, oleh karena itulah meskipun manusia itu mungkin berbuat yang tidak baik, namun nurani selalu menimbang, nurani akan selalu mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu tidak pantas kita perbuat, dan kita sadari atau tidak nurani kita akan selalu menolaknya . Penetahuan yang benar itu akan menuntun seseorang itu kepada kebijaksanaan dan berbudi baik dan sampai kepada pengenalan akan Ide-Ide yang merupakan kebenaran yang sejati. Siapa yang mampu menyelami segala sesuatu itu sampai kepada ide tentang kebaikan tertinggi, maka ia akan mencintai maka ia akan mencintai ide itu maka ia akan senantiasa terarah kepada yang baik atau yang bijak itu.
Berbuat baik kata Plato akan mendatangkan kesenangan yang tak terlukiskan, mereka itulah yang walaupun berada di dunia Indrawi akan sanggup hidup seolah-olah berada di dunia Ide yang menghadirkan ide-ide tentang bebaikan dan kebajikan di tengah-tengah kehidupan dunia, dan seperti yang telah kita ulas diatas, bahwa predikat pencapayan dua Ide ini hanya dapat di peroleh melalui pengetahuan dan akal budi yang luhur semoga kita sanggup mencapainya dengan ikhtiar lahir batin.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan yang ada dapat kita tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a)      Etika berasal dari kata Yunani ”ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik.
b)      Etika menurut istilah adalah nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
c)      Etika dipetakan menjadi 2 (dua) yaitu : Etika Diskriptif, dan Etika Normatif.
d)     Dua Ide ini (etika, dan ide) hanya dapat di peroleh melalui pengetahuan dan akal budi yang luhur semoga kita sanggup mencapainya dengan ikhtiar lahir batin.



















DAFTAR PUSTAKA

Ø   K. Bertens, Etika, Jakarta. Gramedia, 2000.
Ø  Jean Hendrik Rapar, Filsafat Politik Plato, Aristoteles, Agustinus, machievelli, Rajawali Pers. 2001.
Ø  Atong Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teogilosofi, Bandung, Pustaka Setia. 2008.
Ø  Kotsoff, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana. Jogjakarta, 1996.
Ø  Darmadi Harjo, Darji Shidarta, Tokoh-Tokoh Filsafat Umum, Jakarta. Kencana, 2009.


[1] Atong Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teogilosofi, Bandung, Pustaka Setia. 2008.

[2] K. Bertens, Etika, Jakarta. Gramedia, 2000.

[3] Jean Hendrik Rapar, Filsafat Politik Plato, Aristoteles, Agustinus, machievelli, Rajawali Pers. 2001.

0 komentar:

Posting Komentar